Tanggal Hari Ini : 20 May 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Bank Om & Bank Tante, Bergulat Diantara Peluangan & Resiko!
Senin, 12 Maret 2018 03:47 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Keberadaan “Kosipa” dan “Bank Tante” telah menjadi bagian dari kehidupan pengusaha gurem dan mikro dipasar-pasar tradisional dan sentra perdagangan. Bukan hanya ada di Jakarta, tetapi ditengarai juga ada di daerah-daerah lain di seantero Indonesia. Kehadiran mereka saling bergantung, saling menaruh kepercayaan dan harapan.

Bagi pebisnis atau pewirausaha, sekecil apapun usahanya, pada prinsipnya mereka membutuhkan tempat usaha yang memadai, pengelola dan sumberdaya yang mumpuni, penggunaan dan penerapan teknologi yang tepat, serta dukungan modal agar usahanya bisa beranjak naik dan terus berkembang.
Namun tak semua pengusaha mikro memiliki semua sumberdaya yang dimaksud, juga tak memiliki akses ke lembaga jasa keuangan maupun koperasi resmi. Mereka bertahun-tahun bergantung kehidupan ekonominya pada Koperasi Simpan Pinjama “Kosipa’ informal dan “Bank Tante”.
Salah satu pemilik usaha jasa keuangan informal Kosipa di Pasar Karamatjati, Jakarta Timur, Liston Silalahi (41) mengungkapkan, peluang bisnis mendirikan “Kosipa” cukup bagus di Jakarta. Berdasarkan penuturannya, mengapa ia tertarik mendirikan Kosipa karena membuka lembaga koperasi resmi izinya sulit dan berbelit.
“Mulanya saya ingin membuka koperasi resmi, tetapi sulit sekali syaratnya. Akhirnya setelah modal terkumpul sebesar Rp 20 juta, saya memberanikan diri menawarkan modal kepada para pedagang di sini dan masyarakat sekitar. Saya tawarkan sendiri pada mereka, mulanya saya menawarkan pada pedagang yang sudah akrab terlebih dahulu dan disambut baik,”tutur lelaki yang juga berjualan kaset bekas ini.

Pinjaman yang ditawarkan oleh Silalahi mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 5 juta. Besar pinjaman tergantung orang yang meminjam, bila ia sudah mengenal dengan baik, maka ia bisa saja meminjamkan dana lebih besar, tetapi kalau baru dikenal ia tak akan coba-coba memberikan, meskipun jumlahnya kecil, karena jika macet ada beban psikologis yang berakibat buruk pada usaha Kosipanya.
“Saya harus memberi pinjaman dari jumlah terkecil dahulu. Saya harus mengetahui kredibilitas mereka terlebih dahulu karena bila langsung memberi dana besar, takutnya mereka tidak bisa bertanggung jawab. Bisnis ini resikonya besar, oleh sebab itu kami harus berhati-hati,” cetusnya.
Memberikan pinjaman dana, lanjut Silalahi, meskipun tanpa syarat harus tetap diberlakukan dengan syarat. Syaratnya yaitu foto kopi KTP dan tanda tangan penerimaan uang serta tatacara pengembalian.
“Kalau uang diberikan begitu saja, takutnya mereka mengira peminjaman ini tidak ada aturannya. Selain foto kopy KTP kami juga harus tahu rumah tempat tinggal mereka terlebih dahulu. Kalau rumahnya dicari, atau tidak ketemu, ya urunglah kasih pinjaman,”kilahnya.
Saat ini Silalahi telah memiliki lebih dari 50 orang nasabah. Sebagian besar adalah pengusaha mikro yang tidak memiliki kios sendiri. Sebagian besar nasabahnya adalah pedagang buah, ada juga yang berdagang sayuran, ada yang berjualan sembako. Berdasarkan pengalamannya, mereka yang telah melunasi cicilannya kembali meminjam uang modal kepadanya.
Untuk membantunya menagih cicilan setiap hari, Silalahi dibantu oleh tiga orang karyawan yang terus mengambil cicilan uang harian. Mereka para karyawan terus mengupayakan agar dapat bertemu dan memperoleh uang cicilan setiap hari. Jika tidak bertemu pagi, siangnya para penagih akan datang kembali, jika siang belum diperoleh sorenya akan datang lagi.
Menurut Silalahi, tidak semua nasabanya membayar secara rutin. Ada juga yang tidak lancar, biasanya kalau sudah demikian, mereka tidak diperkenankan lagi meminjam uang kepadanya.
Seperti halnya Silalahi, seorang perempuan setengah baya yang biasa dipanggil Tante ini juga berprofesi serupa dengan Silalahi. Mereka, para pedagang mikro sering memanggilnya ‘Bank Tante”. Ia mengelola uang ‘menganggur’ milik seseorang dan dipinjamkan kepada para pedagang mikro dan kecil yang membutuhkan. Besarnya pinjaman yang diberikan tidak besar, berkisar Rp200ribu hingga Rp2juta. Lebih dari itu ia tidak berani.
Berbeda dengan lainnya, “Bank Tante” memberlakukan masa pengembalian lebih cepat, yaitu selama 30 hari. Contohnya bila ada pedagang mikro yang meminjam Rp250 ribu maka ia memberlakukan cicilan sebesar Rp 10 ribu per hari selama 30 hari kerja.
Namun ada skim lain yang ditawarkan ‘Bank Om’ yaitu jika meminjam Rp100 ribu, maka uang yang diterima hanya sebesar Rp90 ribu, karena dipotong biaya administrasi sebesar Rp5 ribu dan tabungan peminjam sebesar Rp5ribu juga. Jumlah cicilannya sebesar Rp5 ribu per hari selama 23 hari kerja. Bila cicilan habis, maka tabungan tersebut ia kembalikan.
Begitulah, rekadaya para pengusaha mikro dan kecil yang harus bergulat menghidupi dan membesarkan usahanya. Bank mungkin masih jauh dari jangkauannya. Tetapi siapa tahu ada yang terketuk hatinya, untuk menjadi bagian dari perubahan mereka.
Bagi para ‘Bank Om dan Bank Tante’, mereka melihat peluang dan risiko. Kepada majalah ini para ‘pemain bank keliling ini mengaku risiko meminjamkan uang di kalangan pebisnis mikro sangat besar, sangat tinggi dan sangat rumit. Belum lagi masalah eksternal yang kadang-kadang sulit dipridiksi. Jika ada kebakaran, kerusuhan di pasar serta penertiban pedagang kaki lima ia memastikan akan ada nasabah yang macet kreditnya.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari