Tanggal Hari Ini : 23 Oct 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Kredit Usaha Mikro Gampang-Gampang Susah
Senin, 12 Maret 2018 03:34 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Bagi pengusaha mikro dan kecil meminjam uang untuk menambah modal adalah pertaruhan kepercayaan. Tidak banyak lembaga jasa keuangan yang percaya. Kalaupun ada sangatlah banyak syaratnya. 

Nismah (35), pedagang kaki lima yang ada di Pasar Jatinegara ini bercerita. Mau pinjam modal ke bank atau koperasi simpan pinjam syaratnya banyak. Hanya yang memiliki kios yang dapat memperoleh pinjaman. “Syaratnya harus memiliki toko. Jika ada pedagang kecil tidak memiliki toko, maka tidak akan pernah lolos untuk meminjam dana,” ujar Nismah.

Karena beratnya syarat-syarat tersebut, tidak heran jika ‘koperasi simpan pinjam (Kosipa) keliling’ tumbuh subur. Mereka meminjamkan dananya kepada para pengusaha kecil dengan syarat yang supermudah, namun bunganya cukup besar.
Berikut skim modal dan bunganya yang lazim berlaku. Jika pinjam sebesar Rp5juta, maka cicilannya yang harus dilakukan adalah sebesar Rp150 ribu selama 40 kali angsuran selama 40 hari. Cicilan tidak boleh terputus. Jika terputus atau menunggak sehari saja maka reputasi peminjam akan diumumkan seantero pasar.
Skim yang kedua, misalnya meminjam sebesar Rp100 ribu, maka peminjam hanya memperoleh uang sebesar Rp90ribu, yang Rp5ribu merupakan uang administrasi, sedangkan yang Rp5ribu lainnya merupakan uang tabungan yang dikembalikan jika pinjamannya lunas. Uang pinjaman tersebut harus dicicil selama 23 hari kerja dengan besarnya cicilan sebesar Rp5 ribu per hari.
Berbeda dengan “Kosipa Keliling”, kini di pasar-pasar tradisional dan pusat-pusat perdagangan bermunculan juga ‘Bank Tante”. “Bank Tante” memberlakukan skim peminjaman dengan jumlah yang lebih fleksibel, namun dengan syarat sedikit lebih ketat. Mereka hanya memberikan pinjaman kepada orang yang benar-benar telah dikenalnya, dan telah bertahun-tahun berjualan dan berdagang di lokasi yang sudah ada.

Kredit Usaha Mikro Gampang-Gampang Susah, bank tante, pengusaha mikro dan kecil, pinjam modal ke bank atau koperasi simpan pinjam, koperasi simpan pinjam (Kosipa) keliling

“Bank Tante” tidak akan pernah memberikan pinjaman kepada orang baru, apalagi pedagang pindahan. Selain itu mereka juga datang ke rumah calon peminjam tanpa sepengetahuan para calon peminjam. Skim yang diberikan adalah jika meminjam Rp1juta, maka cicilan dilakukan setiap hari dengan besarnya cicilan sebesar Rp40.000 per hari selama 30 hari berturut-turut dan tanpa terputus
Bagi Mizwar, dan Aminah, pedagang buah di Kawasan Pasar Kramat Jati, kehadiran “Kosipa” dan “Bank Tante” sangat membantu usahanya. Mizwar dan Aminah adalah pebisnis mikro yang modalnya cekak. Ia tak memiliki kios, jualannya numpang di emperan toko orang.
Meski tak punya modal dan tak punya lapak untuk berjualan, biasanya para “Kosipa” dan “Bank Tante” ini yang memotivasi orang-orang seperti Mizwar dan Aminah untuk berdagang. Nanti ia yang mendukung modalnya.
“Biasanya saya mengutarakan niat saya untuk membuka usaha berjualan buah-buahan, modalnya dari mereka, cara mencicilnya diperoleh dari usaha dagang setiap hari. Enaknya kalau hari libur kita tidak diwajibkan mencicil,” ujar Aminah.
Hitung-hitungan bisnisnya mudah, jika ia meminjam modal Rp1juta, uang tersebut ia gunakan untuk berbelanja buah-buahan, dan keperluan lainnya sebagai modal awal. Dari modal tersebut ia mulai berjualan. Omzet katakanlah dapat Rp500 atau Rp600 ribu per hari. Dari omzet tersebut Aminah menyisihkan Rp40 ribu untuk uang cicilan pinjaman, Rp50ribu untuk biaya hidup sehari-hari, termasuk transport dan kebutuhan keluarga. Sedangkan sisanya digunakan untuk menambah barang dagangan supaya lengkap seperti sediakala.
Soal bunga yang tinggi ia tidak terlalu memikirkannya. Baginya roda usaha yang terus berputar lebih penting daripada memikirkan bunga pinjaman. Toh ia masih memperoleh laba yang cukup dari usahanya.
Kisah serupa juga dilakukan Nismah dan Senon, pedagang sayuran di lokasi yang sama. Biasanya ia meminjam uang untuk biaya anak sekolah. Karena hanya pedagang kecil, ia tidak memiliki dana segar yang cukup untuk berbagai keperluan yang mendesak. Setiap ada keperluan untuk anak sekolah, Nismah selalu meminjam uang pada Kosipa. “Bayarannya tidak terasa karena dicicil setiap hari,”ungkap Nismah.
Senon pun demikian. Ia kerap membutuhkan uang cukup besar untuk ukuran mereka, Rp2juta. Untuk ukuran mereka, Rp2juta, jangankan meminjam di bank, di koperasi saja ia tidak memenuhi syarat, maka alternatifnya ya ke Kosipa.
Sejak kapan kehadiran “Kosipa” dan “Bank Tante” di pasar-pasar tradisional? Tidak diketahui dengan pasti. Yang pasti kehadiran para pelaku usaha mikro dan kecil yang jumlahnya ratusan hingga ribuan di sebuah pasar atau pusat perdagangan adalah pasar bagi mereka. Seperti pepatah, ada gula ada semut.
“Kosipa’ dan “Bank Tante” memberikan bunga pinjaman yang sangat tinggi. Meski begitu banyak pedagang gurem dan mikro yang memanfaatkannya. Cara mendapatkan yang mudah, syaratnya juga gak macam-macam, membuat para pedagang menyukainya.
Para pengusaha mikro tersebut tidak mempermasalahkan besarnya bunga yang diberlakukan kepadanya, juga tidak mempersoalkan cara penagihannya dan besarnya cicilan yang harus dibayarkan setiap hari. Sepanjang dapur usaha tetap ngebul, cara itu mungkin akan terus dilakukan.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari