Tanggal Hari Ini : 19 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Usaha Mikro dan Kecil, Tulang Punggung Ekonomi Keluarga
Senin, 28 November 2016 01:51 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Usaha mikro dan kecil diyakini menjadi penyelamat ekonomi Indonesia di saat perekonomian sedang lesu saat ini. Usaha mikro dan kecil lentur dan sangat adaptif ditengah berbagai perubahan yang cepat. 

Berbagai Usaha seperti berjualan kue, usaha bakso, aneka minuman dan makanan lainnya memiliki pasar yang sangat besar, sehingga dalam situasi apapun, usaha tetap ramai. Majalah Wirausaha dan Keuangan mencoba melihat ke berbagai sentra usaha yang tidak jauh dari kantor redaksi. Pedagang bubur Ayam Palapa yang setiap hari berjualan di dekat Lapangan Palapa Pasar Minggu, Jakarta Selatan pembeli silih berganti berdatangan. Jika hari kerja, para pegawai kantor banyak yang membeli untuk dibungkus sebagai bekal ke kantor, ada juga yang makan ditempat. Jika hari Sabtu atau Minggu yang datang bersama keluarga ramai sekali.
“Mau yang lengkap atau biasa”, itulah respon pertama dari karyawan yang melayani pemesan bubur. Sepertinya para pelanggan sudah biasa sarapan bubur di situ. Kursi yang disediakan yang ditata berderet menghadap meja panjang dengan pemandangan lapangan sepak bola di Kawasan Kompleks Perumahan, Palapa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan merupakan penataan khas pedagang PKL, tidak pernah kosong, kursi yang diduduki pun antri.
“Kami biasanya melayani pembeli antara 500 sampai 600 porsi setiap hari, kecuali hari Sabtu dan Minggu bisa 800 porsi ” ujar Sholihin, pengelola Bubur Ayam Palapa yang kami wawancarai.
Setiap hari rata-rata omset bubur ayam tersebut mencapai Rp5 juta hingga Rp6 juta, yang buka mulai dari jam 5.30 WIB hingga pukul 9 pagi, berjualan kira-kira 4,5 jam per hari. Anggaplah persiapan pembuatan bubur juga dihitung selama 4 jam juga, artinya total jam kerja pedagang bubur tersebut adalah 8 jam.

Usaha Mikro dan Kecil, Tulang Punggung  Ekonomi Keluarga, Penghasilan Jutaan, berjualan kue, usaha bakso, aneka minuman dan makanan

Usaha Mikro dan Kecil, Tulang Punggung  Ekonomi Keluarga, Penghasilan Jutaan, berjualan kue, usaha bakso, aneka minuman dan makanan

Muhammad Iqbal Satrio Utama dan istrinya Intan Fransiska


Hampir sama seperti penjual bubur ayam yang laris, bisnis makanan yang tak kalah ‘gurihnya’ adalah bisnis bakso. Jenis makanan ini tak kalah banyak pengemarnya dengan produk kuliner lainnya. Seperti yang di jumpai oleh tim WK, Bakso Rahayu, Komplek Rawa Bambu , Pasar Minggu, Jakarta Selatan setiap hari hanya buka dari jam 16.00 sampai jam 21.00 WIB, artinya maksimal jam bukanya hanya 5 jam saja setiap hari, namun memiliki omzet yang luar biasa. Setiap hari pemilik usaha usaha tersebut mampu menghabiskan 600 porsi bakso. Apabila harga bakso Rp14 ribu per porsi plus teh botol Rp3000 sebagai teman minumnya, maka omset setiap harinya mencapai Rp7 juta lebih. Dalam menjalankan usahanya-pun tidak memerlukan pegawai yang banyak, cukup sang pemilik di bantu istrinya.

Penghasilan Jutaan
Cerita serupa juga dikisahkan Muhammad Iqbal Satrio Utama dan istrinya Intan Fransiska. Suami istri asal Depok, Jawa Barat ini sejak tahun 2008 lalu membuat usaha produk aneka risoles dan aneka kue basah.
Awal usahanya, menurut Intan hanya coba-coba saja. Ia suka membuat camilan untuk anaknya. Ia kemudian mencoba menjual di sekolah dan ternyata banyak peminatnya. Setelah beberapa bulan membuat kue risoles dari rumah, Fransiska ingin mencoba ‘berperang di arena yang sesungguhnya’. Ia menyewa lapak kaki lima di Kawasan Kue Subuh Blok M, Jakarta Selatan. Dan dari tempat sederhana inilah bisnisnya mulai ‘bercerita’.
Kawasan Kue Subuh, Blok M, Jakarta Selatan ini merupakan sentra grosir kue-kue basah terbesar di Jakarta. Suaminya yang setahun lalu bekerja sebagai karyawan di sebuah kantor elit di kawasan Sudirman diajaknya serta untuk membantunya. Empat orang karyawan masih kuwalahan untuk membantunya.
Agar dapat lebih efisien bekerja di lapak, Intan membuat adonan kuenya di rumah. Di Pasar Subuh Blok M tersebut ia tinggal menggoreng dan memajang produknya dan siap diserbu oleh para pemilik toko kue, pemilik catering dan kios-kios kue yang menjadi pelanggan tetapnya.
“Saya biasa membawa 3000 – 6000 kue setiap hari. Harganya bervariasi dari harga Rp2500 hingga Rp5000 per buah,” ujarnya.
Setiap hari omzet usaha Intan yang berada di Lapak tersebut tak kurang dari Rp5-10juta perhari. Bahkan omzet tersebut belum termasuk pesanan langsung yang datang ke rumahnya. Sebagian besar pemesan langsung adalah pemilik toko kue, dan memberi merek sendiri dari kue yang dipesannya.
“Mereka pesan ke kami, tetapi menggunakan merek mereka sendiri. Bagi saya tidak apa-apa, mereka memang memiliki jaringan distribusi sementara saya tidak, dan menurut saya hal itu adalah bentuk kerjasama yang saling menguntungkan,” ujar Intan.
Untuk membedakan kue buatannya dengan produk lainnya, Intan lebih menekankan kualitas produknya, terutama kualitas mayones yang digunakan. Ini adalah resep sendiri yang ia miliki.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari