Tanggal Hari Ini : 22 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Dunia Usaha Mikro yang Menggairahkan
Jumat, 01 Juli 2016 07:11 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Sebut saja “Bang Unik”. Walau bukan nama sebenarnya, namun sudah cukup mewakili. Dia adalah seorang seniman, teman penulis, teman ngeband, penabuh drum. Kegiatan utamanya wiraswasta, pengusaha mikro. Meski untuk hal ini, ia masih risih jika disebut sebagai pengusaha.
Kalau soal kegiatan, jangan ditanya. Seabrek. Semuanya berkutat di bidang seni, seperti pembuatan miniatur motor/mobil/peralatan pertanian/alat berat, patung, lukisan, pembuatan studio musik/karaoke/rekaman, dekorasi, termasuk dekorasi acara-acara di TV atau promosi produk tertentu, dan masih ada lagi.
Kalau soal ngantor, sehari-harinya Bang Unik “berkantor” di 3 (tiga) tempat. Pertama di sanggar/workshop/galerinya, kedua di tempat teman/pelanggan, dan ketiga di jalanan. Yang unik adalah kantor yang ketiga, yaitu jalanan. Ia sepertinya tak bosan-bosannya menelusuri jalan-jalan kota, kampung dan desa, dengan “moge” alias motor gedhe kunonya yang super unik (modifikasi sendiri), dan mampir di sana sini, ke berbagai tempat.
Penulis pikir orang ini kok begitu tergila-gila dengan hobinya mengendarai “moge”. Kayaknya lupa waktu. Ternyata penulis keliru. Ketika penulis tanya kenapa waktu banyak dihabiskan di jalan, jawabnya hanya singkat. “Sekolah”. Terus terang penulis sempat heran. Dia lantas menjelaskan arti “sekolah” dengan bahasanya sendiri, “ Sekolah adalah mencari informasi dan relasi. Kalau dua hal itu dapat diperoleh, maka rejeki akan datang sendiri”.
Penulis masih belum puas, karena zaman sekarang ini mencari informasi dan relasi bisa dilakukan melalui HP atau internet/FB, tidak harus turun ke lapangan secara langsung (fisik). Jawabannya santai, “Kalau pengin terus hidup dan berkembang turunlah ke lapangan, teknologi hanya membantu saja. Banyak hal di luar sana yang tidak bisa dijangkau oleh teknologi”.

Dunia Usaha Mikro yang Menggairahkan,Memaknai Hidup, Street Smart , Kepercayaan Itu Mahal

Aktifitas diskusi bisnis sebagai wahana belajar  dan mencari pengalaman.


 

Memaknai Hidup
Penuturan Bang Unik mengandung suatu kebenaran sederhana tentang arti hidup. Tentang bagaimana seharusnya mengisi kehidupan ini. Tentang bagaimana memandang kehidupan, mengatur hidup sendiri dan membina hidup bersama orang lain.
Sayang pesatnya kemajuan teknologi informasi telah membius banyak orang melupakan nilai-nilai kebenaran di atas. Dari salah satu aktivitas saja, misalnya dalam mencari informasi, maka akan terasa kurang pas dan kurang lengkap kalau tidak dilakukan on the spot dengan memanfaat seluruh panca indera kita.
Tanpa kelengkapan panca indera pasti masih menyisakan bagian-bagian yang kabur, gelap dan menyesatkan. Terlebih dalam mencari relasi. Melalui panca indera soft competency (personal dan interpersonal competency) manusia akan terbentuk dan tumbuh berkembang. Tidak bisa diserahkan begitu saja kepada teknologi.

Street Smart
Penulis jadi ingat dengan istilah street smart, yang merupakan jenis kecerdasan yang sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam mengarungi kehidupan ini. Termasuk kehidupan karirnya.
Walaupun kecerdasan sekolah (school smart) adalah penting, namun tanpa kecerdasan jalanan/lapangan (street smart) maka dalam parkteknya individu justru akan kesulitan menggunakan school smartnya. Street smart akan meningkat seiring dengan proses akumulasi soft competency yang diperoleh dari lapangan, dari praktek, dari pergaulan sehari-hari, dari pasar atau dari jalanan.
Seperti apa yang sering dilakukan Bang Unik misalnya, yaitu keinginan mencari dan menggali informasi, yang sebenarnya juga merupakan salah satu macam soft competency (information seeking), levelnya akan meningkat berkat pengalaman-pengalaman di lapangan. Informasi sedikit akan memacu keinginan memperoleh informasi yang lebih banyak, dan lingkungan akan memfasilitasinya. Belum lagi upaya mencari relasi, yang tentunya memerlukan kecerdasan sendiri yang hanya diperoleh di lapangan. Mengapa Bang Unik sengaja menggunakan “moge” yang super unik ? Tentu saja dia ingin “sekolah”nya berhasil, “lulus” dengan “nilai” tinggi.
Tidak hanya Bang Unik saja yang menilai informasi dan relasi sebagai modal dasar, atau modal utama usaha, namun penulis yakin semua pengusaha berlaku demikian. Itu sangat mudah dimengerti karena tanpa dua unsur tersebut suatu kegiatan bisnis tidak dapat dijalankan.
Yang menjadi masalah adalah, bagaimana mendapatkan dan mengelolanya sebaik-baiknya. Ini bukan hal yang mudah, karena itu harus dicari (sering tersembunyi), bersifat dinamis, dan bukan barang mati. Yang namanya relasi tidak terbatas hanya pelanggan atau customer saja, tetapi semua stake-holder, yang tentu saja, ikut andil dalam pengembangan bisnis. Itulah pentingnya pebisnis harus selalu terjun ke lapangan, tidak cuma duduk di belakang meja.
Faktor penting dalam berhubungan dengan relasi adalah kepercayaan. Tanpa kepercayaan mustahil kita akan memperoleh relasi. Sebaliknya, dengan kepercayaan, relasi akan sepenuhnya mendukung kita dalam banyak hal. Kita harus bisa dipercaya oleh para relasi. Ini mutlak.
Selama ini bang Unik tidak pernah mengambil pinjaman dari bank karena kebutuhan permodalannya sudah dipenuhi para relasi non bank, yaitu pelanggannya. Tetapi ada teman saya yang lain, yaitu Pak Agus, seorang wirausaha ikan hias dan ikan konsumsi. Usahanya maju dan berkembang berkat mendapatkan dukungan permodalan dari 2 bank yang telah lama menjadi relasinya. Pak Mulyono, kontraktor dan developer kelas kecil, selalu memperoleh bantuan dari supplier atau toko bahan bangunan, sehingga tidak perlu modal uang lagi, karena sudah sangat terpercaya.
Pertanyaan yang sering muncul adalah, bagaimana membangun kepercayaan diri bagi orang lain ? Pengalaman menunjukan ada tiga unsur pembangun kepercayaan, yaitu kompetensi, integritas, dan intimasi.
Kita percaya kepada orang lain karena mereka punya keahlian. Punya kompetensi, punya skill, baik hard mapun soft skill. Kita percayakan anak kita untuk belajar kepada guru yang kompeten. Kita akan menyuruh orang memperbaiki komputer karena orang itu memang bisa melakukannya. Kita bisa mengenalnya karena dia memiliki tempat usaha, dan sarana promosi yang disebarkan lewat berbagai media. Dia sengaja melakukan itu karena memiliki kompetensi dan bermaksud menjualnya. Bang Unik sengaja memodifikasi mogenya sedemikian rupa, untuk mengungkapkan sebagian kompetensi yang dijualnya.
Walaupun seseorang kompeten di banyak bidang, tetapi kalau sering ingkar janji, atau tidak jujur, maka kepercayaan yang diberikan padanya akan luntur. Selain kompeten juga harus memiliki integritas, artinya apa yang diucapkan dan apa yang dipikirkan harus sama dengan apa yang dilakukan/diamalkan.
Sering kita dibuat jengkel oleh teman yang banyak omong tetapi tidak melakukan apa-apa. Sering juga ibu-ibu dibuat jengkel dan tidak percaya lagi kepada tukang jahit, karena janjinya meleset melulu. Sering pihak bank dibuat jera oleh debiturnya yang hanya janji-janji melulu dalam membayar bunga dan angsuran pokok kredit, sehingga periode berikutnya kredit tidak diberikan lagi.
Dua unsur di atas tidaklah cukup kalau tidak ada unsur ketiga, yaitu intimasi atau kedekatan. Bagaimana orang tahu dan bisa menilai kalau tidak pernah tampil, tidak gaul, atau tidak dekat. Kedekatan merupakan faktor yang amat penting. Misalnya, dalam rangka memperoleh kredit maka pengusaha harus mendekati bank. Dan sebaliknya, kalau bank ingin memperoleh debitur yang baik, maka bank juga harus mendekati calon debitur tersebut. Bank harus turun ke jalan. Turun ke lapangan.

Dunia Usaha Mikro yang Menggairahkan,Memaknai Hidup, Street Smart , Kepercayaan Itu Mahal

Beragam bisnis mikro dan kecil 


 

Kepercayaan Itu Mahal
Membangun kepercayaan memang tidak selalu mudah dilakukan.. Ada saja hambatan atau godaannya. Misalnya soal pemenuhan faktor kompetensi teknis (hard skill), sekarang ini masih banyak ditemui tenaga kerja yang miskin keahlian. Padahal kalau mau berusaha tidaklah susah. Faktor penghambat utama biasanya kurangnya kemauan atau rendahnya soft skill. Ini sering terjadi terutama karena dimanjakan oleh lingkungan. Maka sering skill muncul dan berkembang karena keadaan yang memaksa.
Contoh bagus pernah penulis temui di lapangan. Pagi itu sangat cerah. Hari Sabtu penulis memiliki acara rutin, nyuci mobil dan bersih-bersih gudang. Tak beberapa lama terdengar lagu “something”nya the Beatles, makin lama makin keras. Eh tahunya suara itu berasal dari tape recorder kecil di atas gerobak dorong milik seorang pemuda. Penulis sempat heran, karena ternyata pemuda itu berprofesi sebagai pemulung. Jauh dari penampilannya yang kayak pemain band.
Dengan gayanya yang amat menarik dan sopan, pemulung tersebut menjalankan “bisnisnya” dengan baik sekali. Alhasil di hari itu dia berhasil memperoleh banyak sekali buruannya, barang bekas, mulai dari koran, majalah, accu mobil, band mobil, sepeda usang, botol-botol plastik, dan entah apa lagi, dari penulis sendiri maupun dari para tetangga penulis tanpa mengeluarkan uang se sen pun. Kok bisa ? Pemulung itu menukarkannya dengan jasa perbaikan radio/tape recorder, kipas angin, komputer, dan bersih-bersih gudang. Malah dia masih memperoleh uang, makan dan minum.
Sugeng. Ya, namanya Sugeng, sang pemulung itu. Ia lulusan SLTA di sebuah kota di Jawa Timur. Ia memulai bisnisnya karena keadaan yang memaksa. Belum lama lulus sekolah menengah atas di daerah Ngawi (Jawa Timur) dia menjadi yatim piatu. Padahal dua adiknya masih memerlukan biaya. Dia lalu bekerja seadanya di daerahnya. Karena hasilnya kurang menjanjikan maka dia ikut kakak teman sekelasnya yang menjadi pemborong bangunan kecil-kecilan di Jakarta. Di situ Sugeng sebagai kuli bangunan.
Belum setahun menjadi kuli bangunan, sang pemborong yang diikutinya bangkrut. Sejak itu Sugeng berganti-ganti pekerjaan sampai akhirnya berkenalan dengan Asep, seorang pengepul barang bekas.
Bagi Sugeng, Asep adalah guru, ayah maupun teman kerja yang baik. Asep orangnya pekerja keras, berdisiplin tinggi, dan tidak mudah percaya kepada orang lain. Di sini Sugeng berupaya keras untuk bisa dipercaya. Ia rajin belajar segala hal yang menyangkut bisnis barang bekas.
Akhirnya Sugeng “lulus” dan menjadi tangan kanan Asep, bekerja di tempat usahanya. Gajinya pun cukup untuk membiayai saudaranya. Namun tiap hari Sabtu dan Minggu Sugeng masih tetap keliling keluar masuk kampung, menyapa penghuni rumah menanyakan barang bekas, atau nongkrong dan ngobrol di pos-pos ronda, di tempat mangkal ojek, atau di tempat-tempat lainnya. Ketika penulis tanyakan kenapa kok masih keliling kampung, jawabnya adalah “BELAJAR”.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari