Tanggal Hari Ini : 22 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Jika Punya Usaha Tapi Tak Tahu Berapa Gajinya
Rabu, 13 Januari 2016 07:08 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Berapa gaji anda sebagai pengelola usaha? Berapa keuntungan yang anda dapatkan sebagai pemilik usaha? Anda tidak pernah dapat menjawab pertanyaan ini jika pengelolaan keuangan usaha anda bercampur dengan keuangan keluarga.

Berapa banyak uang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sebuah keluarga? Sangat relative, tergantung dari tipe dan gaya hidup seseorang dan keluarganya. Ada yang bisa hidup hemat dan secukupnya, namun sebaliknya ada yang bergaya hidup glamour, mewah dan bercitarasa tinggi, tentu dengan ongkos yang cukup tinggi.

Penting bagi Reni K. Ashuri untuk mengingatkan para pemilik usaha agar dapat sedini mungkin memisahkan dengan jelas dan tidak mencampur antara keuangan keluarga dengan keuangan perusahaan.  Perlu dipisahkan secara jelas, dan dilakukan pencatatan tersendiri, dan bertindak disiplin atas pengelolaannya.

Reni sering menemukan cukup banyak pemilik usaha yang belum memisahkannya secara jelas antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan perusahaan, keuangan pribadi dan keuangan perusahaan. Padahal dalam mengelola usaha harus jelas berapa gaji anda sebagai orang yang bekerja di perusahaan anda sendiri, berapa gaji istri anda yang membantu usaha anda sebagai staf perusahaan, berapa operasional perusahaan yang harus dikeluarkan, dan lain sebagainya.

Menurut Reni, tidak bisa seenaknya menggunakan uang perusahaan tanpa perincian dan status yang jelas, sehingga diketahui posisi keuangan perusahaan yang sebenarnya, tahu posisi usaha anda untung atau rugi. Dengan data yang cukup, anda dapat memproyeksikan target-target penghasilan perusahaan, biaya marketing, dan langkah-langkah pengembangan sehingga anda dapat merencanakan usaha untuk tumbuh dan berkembang menjadi 2, 3 atau 4 cabang.

Keruwetan bercampurnya keuangan keluarga dengan keuangan perusahaan seringkali berimbas pada ketidakmampuan pengelola usaha untuk memproyeksikan bisnis secara tepat. Banyak yang usahanya lancar, tetapi tidak tumbuh. Sepertinya memiliki laba yang banyak tetapi sulit melakukan investasi, karena hasil usaha banyak yang tergerus untuk biaya pribadi. Omzetnya bagus tetapi modal yang dikumpulkan selalu habis, bisnisnya untung tetapi tidak bisa nabung. Ternyata setelah diteliti lebih jauh, uang usaha banyak digunakan untuk keperluan keluarga.

 Reni K. Ashuri,Hati-Hati dengan Hutang, renternir, keuangan

Hati-Hati dengan Hutang

Seringkali pemilik usaha mencari solusi kekurangan modal dengan berhutang. Menurut Reni, berhutang boleh tetapi harus cermat mengelola hutang, dan mengetahui sumber dana apa yang akan digunakan untuk membayar hutang setiap bulan.

Seorang pengusaha pernah mengeluh akibat salah dalam mengambil jalan berhutang. Selama tiga tahun ia harus membayar cicilan, dan runyamnya selama 3 tahun ia baru tahu bahwa cicilan yang dibayar tersebut hanya bunga dari pinjamannya.  Karena itu, Reni berpesan, agar mencari sumber modal dari hutang yang tidak bunga berbunga, dan carilah yang paling kecil margin bunganya,  carilah yang cicilannya flat, dari usaha yang dijalankan memiliki kemampuan untuk  membayar cicilan pokok dan bunga, serta lakukan financial chekup setiap bulan.

Seperti tubuh, keuangan perusahaan kita juga harus dilakukan financial chek up untuk mengetahui kesehatan kondisi keuangannya. “Mulai sekarang lakukan 2 (dua) pembukuan, yaitu keuangan keluarga dan keuangan usaha. Walaupun yang anda kelola adalah usaha sendiri, tetapi hal ini merupakan hal yang berbeda.

Pernah ada seorang pemilik bisnis yang terpaksa harus membutuhkan suntikan modal untuk menjalankan usahanya, yang seharusnya tidak terjadi, karena perusahaannya sebenarnya memiliki cukup likuiditas untuk membiayai operasionalnya, hanya saja karena modal usaha yang ada digunakan untuk keperluan pribadi pemiliknya, maka ia mencari modal pinjaman ke bank. Karena belum bankable, dan tidak memiliki agunan, serta  pembukuan usahanya morat-marit, bank tak mau mengucurkan modal kepadanya.  Dalam kondisi terdesak ia akhirnya meminjam modal di rentenir dengan bunga yang tinggi, menyerahkan BPKB mobil dengan pinjaman senilai Rp100juta, uang yang didapat dan dibawa pulang Rp95 juta, dengan bunga per tahun 30%.  Sebuah babak baru gali lubang tutup lubang, akibat perencanaan keuangan usaha yang tak sungguh-sungguh.

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari