Tanggal Hari Ini : 19 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Kredit Mikro Dari Pasar Becek Hingga di Gedung Bertingkat
Rabu, 03 April 2013 16:31 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Jutaan pengusaha mikro dan kecil yang ada di pinggir-pinggir jalan, di pasar-pasar tradisional, di terminal-terminal, di pusat-pusat keramaian, di pinggiran mall dan pusat perdagangan, bahkan yang berada di gang-gang sempit  adalah keniscayaan dari negeri ini.

Jumlah mereka bukan saja sangat banyak, tetapi juga menjadi dambaan  oleh jutaan orang serta  menjadi tumpuan nafkah dan tulang punggung ekonomi keluarga di rumah. Sedikitnya lapangan kerja yang dapat disediakan oleh sektor industry dan jasa yang ada di negeri ini, menjadikan setiap orang harus berfikir untuk dapat membuka lapangan kerja sendiri.

Namun tidak semua orang mampu menciptakan dan mengembangkan usaha sendiri tanpa adanya dukungan modal yang memadai. Sukinah (55) seorang pedagang sayur mayur di sebuah pasar tradisional di Jakarta Selatan yang masih becek ini.

Ia perlu modal untuk membayar ke ‘bos’ yang mensuplay sayur mayur dari pedagang besar Pasar Induk, Kramat Jati. Saat jatuh tempo itulah  tidak ada  pilihan lain untuk mendapatkan modal selain berhutang kepada pengelola koperasi-koperasi yang biasanya disebut Kosipa (Koperasi Simpan Pinjam) atau mereka juga sering menyebutnya Bank Keliling.

Akhir Pebruari lalu,  Majalah Wirausaha dan Keuangan juga menemukan fenomena serupa bagi para penjual kue basah di Kawasan Senen, Jakarta Pusat. Majalah WK menemui Fatimah (33) pengusaha kue yang menggunakan jasa bank keliling ini.

 Kredit Mikro, jutaan pengusaha mikro

Lembaga keuangan informal yang beroperasi dini hari hingga pagi hari ini bisa berbentuk usaha perorangan maupun usaha koperasi, namun sebagian besar merupakan usaha partikelir bank keliling.

Bagi Fatimah kehadiran bank keliling ini sangat membantunya. Meskipun jika dihitung-hitung dari setiap pinjaman bunganya cukup besar. Contohnya, jika ia meminjam Rp5juta dengan masa pengembalian selama 1 bulan (25 cicilan) maka setiap hari Sukinah harus membayar cicilan sebesar  Rp212ribu per hari atau jika ditotal nilai bunganya sebesar 6% selama sebulan ditambah dengan jasa profisi sebesar 1,5%, sehingga total bunga yang menjadi beban bisa mencapai 7,5% per bulan.

Baik Sukinah maupun Fatimah masih beruntung mendapatkan kepercayaan dari bank keliling seperti ini karena hampir tidak ada agunan berbentuk apapun yang jadi pegangan bank keliling. Pinjaman diberikan karena hanya saling percaya antara peminjam dengan pemilik uang. Skim pengembaliannya juga bervariasi,  ada yang masa pengembaliannya 1 bulan (25 bayar cicilan), 2 bulan (40 bayar cicilan), 2 bulan (50 bayar cicilan), dengan masing-masing pengembalian pokok dan cicilan sebesar Rp140ribu untuk sebanyak 40 cicilan, dan sebesar Rp112ribu untuk sebanyak 50 cicilan.

Kredit Mikro, jutaan pengusaha mikro

Ada aturan tidak tertulis yang berlaku dalam bisnis ini. Peminjam harus membayar cicilan setiap hari tanpa terkecuali, namun jika tidak berdagang kelonggaran bisa diberikan namun akan mengurangi kepercayaan pemberi pinjaman untuk memberikan uangnya lagi.

Model lain dari kredit dari bank keliling ini adalah jika  pinjam sebesar Rp5juta, maka cicilannya yang harus dilakukan adalah sebesar Rp150 ribu selama 40 kali angsuran selama 40 hari, cicilan tidak boleh terputus, karena jika terputus atau menunggak sehari saja maka reputasi peminjam akan diumumkan seantero pasar. Skim yang kedua, meminjam sebesar Rp100 ribu, maka peminjam hanya memperoleh uang sebesar Rp90ribu, yang Rp5ribu merupakan uang administrasi, sedangkan yang Rp5ribu lainnya merupakan uang tabungan yang dikembalikan jika pinjamannya lunas. Uang pinjaman tersebut harus dicicil selama 23 hari kerja dengan besarnya cicilan sebesar Rp5 ribu per hari.

Bank Keliling ini bisa saja memberikan pinjaman lebih banyak dari rata-rata (Rp1-5juta),  misalnya Rp20 juta hingga Rp30 juta namun dengan syarat  lebih ketat, dan diberikan hanya kepada orang yang benar-benar telah dikenalnya, dan telah bertahun-tahun berjualan dan lokasi pasar. Ia tidak akan pernah memberikan pinjaman kepada orang baru, apalagi pedagang pindahan. Selain itu mereka juga datang ke rumah calon peminjam tanpa sepengetahuan para calon peminjam.

 

Kredit Mikro dan Kecil di Gedung-Gedung Bertingkat

Pemerintah telah mengalokasikan kredit bagi pengusaha mikro dan kecil dengan bunga ringan, tanpa agunan, melalui Program Kredit Usaha Rakyat (KUR). akarta, 28/02 Sampai bulan Februari 2013, bank nasional yang menyalurkan KUR sebanyak 7 (tujuh) bank yaitu Bank Nasional Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Bukopin, Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Negara Indonesia Syariah (BNI Syariah). Bank BRI adalah penyalur KUR terbesar dengan total plafond mencapai Rp62,1 triliun. Selain sektor ritel BRI juga menyalurkan KUR di sektor mikro yang masing-masing plafondnya sebesar Rp. 13,1 triliun dan Rp. 49,9 triliun, debiturnya 81.583 usaha mikro dan kecil, dan  7.374.043 usaha mikro dan kecil,  rata-rata kredit Rp161,5 juta/debitur dan Rp 6,8 juta/debitur.

Bank BNI dengan total plafond sebesar Rp. 11,16 triliun, debiturnya sebanyak 163.865 usaha mikro dan kecil, dengan rata-rata kredit Rp 68,2 juta/debitur.  Bank Mandiri dengan total plafond sebesar Rp 11 triliun, debiturnya sebanyak 214.713 usaha mikro dan kecil dengan rata-rata kredit Rp 51,3 juta/debitur.  Bank BTN dengan plafond Rp3,42 triliun, BSM dengan plafond Rp. 2,83 triliun, Bank Bukopin dengan plafond 1,59 triliun dan BNI Syariah dengan plafond Rp. 52,56 miliar.

Namun bagi pengusaha-pengusaha mikro seperti Fatimah dan Sukinah, KUR mungkin belum pernah menyentuh dirinya. Terlebih ia adalah jenis pengusaha ‘kalong’ yang beroperasi malam hingga pagi hari. Mereka juga tak mungkin ditemui petugas bank karena setiap hari berada di lapangan.

Selain itu mereka pasti juga tidak memiliki laporan keuangan, tidak memiliki agunan, dan bahkan tak cakap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan petugas bank.

Mereka butuh yang simple, mudah  dan memang ada kepedulian bagi kelangsungan kehiudpannya. Tanpa itu, bank keliling tetap jadi pilihannya. Entah sampai kapan

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari