Tanggal Hari Ini : 19 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Dunia Usaha Mikro dan Kompetensi Jalanan
Senin, 11 Juni 2012 14:22 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

SYARAT “TUKANG KREDIT”

Oleh: M. Ch. Amien

Beberapa waktu yang lalu, penulis ketemu dengan seorang petugas kredit mikro dari sebuah bank. Dia adalah karyawan baru, belum ada setahun. Dalam sebuah perbincangan, dia sempat mengeluh, katanya susah mencari nasabah yang baik dan “bersih”, rata-rata pengusaha mikro di daerahnya sudah menjadi debitur bank lain, dan di antaranya (tidak sedikit jumlahnya) sudah menjadi penunggak (kreditnya bermasalah). Pengusaha yang belum berhubungan dengan bank menurut dia rata-rata tidak layak dibiayai. Menurut penulis, petugas kredit tersebut hanya senang mengeluh daripada meningkatkan kinerjanya. 

Menjadi  petugas kredit, baik dari kalangan bank atau lainnya, tidaklah semudah yang dibayangkan. Tidak “langsung jadi” begitu saja, melainkan perlu belajar, latihan, dan pengalaman di lapangan, serta kerja keras.

Sama-Sama Berkualitas

Seperti kita ketahui bersama bahwa dalam pemberian kredit, pihak kreditor wajib mengadakan analisis kelayakan “Lima C” dari debitur,  yaitu Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition.Sebenarnya pihak kreditor pun juga wajib memenuhi syarat kelayakan “Lima C”. Ya, demikianlah, agar fair dan seimbang. Yang menilai juga harus berkualitas.

“C” pertama adalah character; maksudnya petugas kredit harus memiliki karakter yang baik, tidak berbeda dengan   yang  dituntut dari debiturnya. Ini adalah sangat wajar, karena, mana mungkin seseorang dengan karakter yang tidak baik akan mampu menilai baik-tidaknya karakter seseorang; bagaimana ukuran dan obyektivitasnya ?Munculnya kredit bermasalah sering sekali diawali dari masalah karakter, karakter nasabah ataupun karakter debitur, atau dua-duanya (kong kalikong).

“C” kedua adalah capacity; maksudnya seorang petugas kredit harus kompeten, artinya mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Memiliki pengetahuan yang luas dibidang perkreditan dan dunia usaha yang dibidanginya, memiliki skill, dan mau/bersedia menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan main yang digariskan.

Ada banyak jenis kompetensi yang harus dimiliki oleh petugas kredit (account officer), untuk itu akan penulis sampaikan di kesempatan lain.  Petugas kredit tidak jarang dituntut menjadi konsultan bisnis debiturnya, sebagai bagian dari strategic business partner sang nasabah. Tidak jarang dijumpai permasalahan perkreditan datangnya dari ketidakmampuan petugas, atau kertidaktahuan petugas atas informasi-informasi penting.

“C” ketiga adalah capital; maksudnya seorang petugas kredit juga harus memiliki modal dan kekuatan finansial yang cukup untuk menghidupi diri sendiri bersama keluarganya. Dengan tercukupi kebutuhan hidup (wajar) oleh kemampuannya sendiri, diharapkan petugas kredit tidak tergoda  untuk “ngrepoti” nasabahnya. Dalam praktek, bentuk godaan tersebut bisa macam-macam, misalnya munculnya kredit “topengan”, komisi, pungli, dan sebagainya.

“C” keempat adalah commitment;  maksudnya seorang petugas kredit harus memiliki komitmen tinggi atau “keikatan” yang erat dengan organisasi tempat dia bekerja. Hal ini berhubungan dengan tumbuhnya “rasa memiliki” dan rasa tanggungjawab.

“C” kelima adalah continuous improvement; maksudnya pertugas kredit harus selalu mengembangkan dirinya, mulai dari karakter/vitalitas moral, pengetahuan/kompetensi, kemampuan financial (dengan cara yang benar) sampai  komitmennya. Kalau ini tidak dilakukan, maka akan tergerus oleh perkembangan jaman dan atau menjadi sebab   kegagalan bisnis perkreditan di unit kerjanya.Kepada rekan-rekan manager kredit, coba diteliti kembali, apakah para petugas kredit  Anda sudah memenuhi persyaratan di atas ?    

             

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari