Tanggal Hari Ini : 01 Oct 2014 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Meminjam Modal dari Koperasi atau Bank Keliling Mengapa Tidak?
Selasa, 15 Mei 2012 10:20 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Ketatnya syarat memperoleh pinjaman dari koperasi pasar karena hanya yang memiliki kios yang dapat memperoleh pinjaman merupakan kendala tersendiri bagi pedagang mikro dan kecil yang hidup di pasar terebut.

“ “Syaratnya harus memiliki toko. Jika ada pedagang kecil tidak memiliki toko, maka tidak akan  pernah lolos untuk meminjam dana di sana. Padahal banyak yang membutuhkan dana segar untuk memutar modal usahanya,” keluh Nismah pedagang kaki lima yang berjualan aneka makanan kecil dan rokok di pasar tersebut.

Karena kendala tersebut, tidak heran jika kini bermunculan usaha simpan pinjam keliling milik perorangan atau koperasi keliling,  mereka menyebutnya Kosipa. Mereka  meminjamkan dananya dengan skim yang sama dengan koperasi pasar yang resmi, hanya saja mereka tidak mempermasalahkan syarat-syarat yang rumit.

Berikut model-model skim yang banyak berlaku dan beroperasi di Pasar  Kramat Jati. Skim tersebut antara lain sebagai berikut : Jika  pinjam sebesar Rp5juta, maka cicilannya yang harus dilakukan adalah sebesar Rp150 ribu selama 40 kali angsuran selama 40 hari, cicilan tidak boleh terputus, karena jika terputus atau menunggak sehari saja maka reputasi peminjam akan diumumkan seantero pasar. Skim yang kedua, misalnya meminjam sebesar Rp100 ribu, maka peminjam hanya memperoleh uang sebesar Rp90ribu, yang Rp5ribu merupakan uang administrasi, sedangkan yang Rp5ribu lainnya merupakan uang tabungan yang dikembalikan jika pinjamannya lunas. Uang pinjaman tersebut harus dicicil selama 23 hari kerja dengan besarnya cicilan sebesar Rp5 ribu per hari.

Lain lagi dengan bank keliling Tante, demikian banyak pedagang mikro di Kawasan Pasar Kramat Jati menyebutnya. Tante memberlakukan skim peminjaman dengan jumlah yang lebih fleksibel, namun dengan syarat sedikit lebih ketat. Mereka hanya memberikan pinjaman kepada orang yang benar-benar telah dikenalnya, dan telah bertahun-tahun berjualan dan berdagang di Pasar Kramat Jati. Ia tidak akan pernah memberikan pinjaman kepada orang baru, apalagi pedagang pindahan. Selain itu mereka juga datang ke rumah calon peminjam tanpa sepengetahuan para calon peminjam. Skim yang diberikan adalah jika meminjam Rp1juta, maka cicilan dilakukan setiap hari dengan besarnya cicilan sebesar Rp40.000 per hari selama 30 hari berturut-turut dan tanpa terputus    

 

Mereka Membantu 

Mizwar, dan Aminah adalah pedagang buah yang ‘merasa’ terbantu dengan kehadiran koperasi keliling dan bank Tante. Ia, yang tidak memiliki kios, apalagi modal tidak tahu bagaimana cara memulai usaha kecuali dengan dukungan mereka.

“Biasanya saya mengutarakan niat saya untuk membuka usaha berjualan buah-buahan, modalnya dari mereka, cara mencicilnya diperoleh dari usaha dagang setiap hari. Enaknya kalau hari libur kita tidak diwajibkan mencicil,” ujar Aminah kepada majalah Wirausaha dan Keuangan.

Hitung-hitungan bisnisnya mudah, jika ia meminjam modal Rp1juta, uang tersebut ia gunakan untuk berbelanja sayur atau buah-buahan, dan keperluan lainnya sebagai modal awal, dari modal tersebut ia kemudian memperoleh omzet Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per hari, dari omzet tersebut ia menyisihkan Rp40 ribu untuk uang cicilan, Rp50ribu untuk biaya hidup sehari-hari termasuk transport dan kebutuhan keluarga, sedangkan sisanya digunakan untuk menambah barang dagangan supaya lengkap seperti sedia kala. Soal bunga yang tinggi ia tidak terlalu memikirkan terlalu panjang, baginya roda usahanya berputar lebih penting, toh ia masih memperoleh laba yang cukup dari usahanya. “Meminjam modal dari koperasi atau bank keliling, mengapa tidak,” cetusnya.

Kisah serupa juga dilakukan  Nismah dan Senon, pedang koran dan sayuran di lokasi yang sama. Biasanya ia meminjam uang untuk biaya anak sekolah. Karena hanya pedagang kecil, ia tidak memiliki dana segar yang cukup untuk berbagai keperluan yang mendesak. Setiap ada keperluan untuk anak sekolah, Nismah selalu meminjam uang pada Kosipa. “Bayarannya tidak terasa karena dicicil setiap hari,”ungkap Nismah.

Senon pun demikian. Ia kerap membutuhkan uang cukup besar untuk ukuran mereka, Rp2juta. Untuk ukuran mereka, Rp2juta, jangankan meminjam di bank, di koperasi saja ia tidak memenuhi syarat, maka alternatifnya ya ke Kosipa.

Sejak kapan kehadiran para Kosipa ada di sini? Tidak diketahui dengan pasti. Meski jika dihitung-hitung bunga pinjaman sangat besar, namun banyak juga pedagang yang memanfaatkan jasanya. Mereka juga tidak mempermasalahkan besarnya bunga yang diberlakukan kepadanya. Juga tidak mempersoalkan cara penagihan cicilan yang dilakukan setiap hari. Bagi para pedagang dan pemilik usaha mikro dan kecil kemudahan itulah yang sangat diperlukan. “Mudah dan cepat,” ujar Senon.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari