Tanggal Hari Ini : 21 Sep 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Kredit , Dimata Account Officer Bank
Senin, 24 Oktober 2011 08:59 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Kredit gampang-gampang susah. Gampang, menurut cerita pengusaha yang telah mendapatkan kredit, dan sulit bagi mereka yang terus-terusan ditolak permintaan kreditnya oleh perbankan. Mari kita melihat pemberian kredit dari kaca mata seorang Account Officer (AO) Bank yang banyak bersentuhan dengan calon nasabah.

Integritas, itikad baik, tidak memiliki sejarah yang buruk dalam per’utangan’ serta karakter subyektif lainnya adalah yang paling utama dinilai oleh AO. Jika karakter kita dianggap bagus oleh AO tersebut maka proposal yang kita ajukan akan dilanjutkan. Tetapi mereka akan menolak secara halus jika kita dianggapnya tidak memiliki karakter yang bagus.

Meskipun dikejar target kredit, seorang AO sangat teguh berpegang pada prinsip lebih memilih kualitas daripada kuantitas. Mereka tidak mau kreditnya macet karena gegabah memilih debitur yang tidak berkualitas. Mereka berpegangan pada prinsip : orang bodohpun dapat meminjamkan uang,  tetapi untuk menagih kembali diperlukan banyak keterampilan.  

Seorang AO selalu memilih melakukan antisipasi dengan cara terus menerus memonitor kredit yang diberikan.  Mereka takut, setiap terjadinya perubahan apapun pada nasabah berdampak pada kreditnya, seperti masalah keluarga, persaingan, situasi ekonomi, dll. Pekerjaan seorang AO justru dimulai begitu kredit dicairkan.

Dalam mengajukan kraedit biasanya kita membuat asumsi-asumsi, yang optimis. Tetapi AO memiliki asumsi sendiri dengan menghitung dan melakukan perbandingan terhadap variabel kondisi keuangan calon debitur, dengan membuat skenario terburuk, skenario moderat, serta skenario terbaik. Semua skenario telah dipetakan secara detail oleh AO.

AO mewakili banknya melakukan transaksi bisnis dengan kita. Karena itu kita juga harus bersikap secara professional dengan mereka, dengan menentukan, bersikap dan merespon secara professional. Seorang pengusaha tidak akan melakukan transaksi yang merugikan bagi usahanya bukan, demikian juga dengan AO.

Seorang AO dididik sebagai professional yang mematuhi dan memahami aturan.  Jika ada yang diproyeksikan ke depan dapat menimbulkan masalah, ia telah mengetahui opsi-opsi yang harus dilakukan. Misalnya jika yang mengajukan kredit adalah calon mertua, teman dekat, dan lain – lain, ia akan menyerahkannya kepada AO lain untuk menilai secara obyektif.

AO memahami jalan keluar sebuah kredit. Pertama, debitur menyelesaikan kreditnya (termasuk membayar bunga, pinjaman pokok dan cicilan) dengan cashflow transaksi bisnis yang dijalankan. Kedua, jika jalan pertama macet jalan keluar kedua dijalankan, yaitu perhatian terhadap jaminan collateral, dan jalan ketiga, jalan keluar yang diberikan oleh pihak lain.

Meski telah memiliki skema jalan keluar kedua dan ketiga, namun kedua hal tersebut tidak dapat menggantikan  karakter dan pembayaran.

AO tidak akan meluluskan permintaan kredit dimana ia tahu meskipun jaminannya bagus  namun itikad debitur kurang bagus,  dan cashflownya yang tidak memungkinkan  debitur mampu membayar pokok pinjaman.

AO memahami bisnis, dan mengetahui struktur dan kondisi pinjaman yang tepat. Karena itu ia akan banyak bertanya untuk mengukur struktur bisnis anda. Karena itu AO memiliki independensi untuk memutus member atau menolak sebuah kredit. Selain itu AO juga memiliki parameter psikologis sendiri yang independen. Jika tidak tenang memberi kredit kepada debitur tertentu, ia tidak akan memberi kredit tersebut. Sebab teknik analisis bukanlah alat eksak yang memberi jawaban atas suatu psoposal.

Bila debitur menghendaki jawaban cepat, ia akan menjawab “ tidak”. AO bekerja buat bank bukan buat debitor atau pemohon kredit, dan ia meletakkan kepentingan perusahaannya sebagai kepentingan utama.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari