Tanggal Hari Ini : 21 Sep 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Rubrik : Ragam Kredit Mikro
Kamis, 12 Mei 2011 22:36 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Sukinah (55) seorang pedagang sayur mayur di sebuah pasar tradisional di Jakarta Selatan. Setiap hari, saat dini hari, ketika orang-orang merapatkan selimutnya karena dingin mulai menyergap,  ia harus berjibaku menantang dinginnya malam. Menggelar dagangannya, berjualan aneka sayur mayur di sebuah lapak kecil, beratap plastik sedanya.

Dihadapannya ada kol, kentang, bayam, wortel, dan aneka sayuran lainnya siap menunggu pelanggannya yang datang. Sebagaian besar pelanggannya adalah pedagang pengecer dan juga warung-warung yang sudah dikenalnya. Banyak pelanggannya yang sudah bertahun-tahun dan sangat dikenalnya. Ada yang membayar tunai, ada juga sebagian yang membayar bertempo, dua atau tiga hari. Mereka saling percaya.

Terkadang, disaat pelanggan sedang banyak-banyaknya, modal untuk membayar ke ‘bos’ yang mensuplay sayur mayur dari pedagang besar Pasar Induk jatuh tempo. Saat-saat inilah Sukinah harus menyediakan uang yang harus segera dibayarkan segera, nilainya bisa Rp5 hingga  Rp10 juta dalam kisaran waktu 3 hingga 5 hari.

Biasanya Sukinah tidak memiliki pilihan lain, selain berhutang kepada pengelola koperasi-koperasi yang biasanya disebut Kosipa (Koperasi simpan Pinjam) atau mereka juga sering menyebutnya Bank Keliling yang banyak ‘bergentayangan’ di pasar-pasar tradisional.

Kepada Majalah Wirausaha dan Keuangan, Sukinah menunjukkan rincian besarnya hutang dan cicilan yang harus dibayarkan jika jadi berhutang.

Alternatif pertama jika pinjam modal di Koperasi ‘X” yang resmi karena berbadan hukum. Setiap modal yang diberikan ada jasa sebesar 2 % per bulan untuk calon anggota, dan jasa 1,5% per bulan untuk anggota, namun jasa itu bukan bunga, karena dalam skim pinjaman mereka juga mencantumkan skim besarnya pinjaman dan besarnya cicilan yang harus dibayarkan.

Contohnya, jika ia meminjam Rp5juta dengan masa pengembalian selama 1 bulan (25 cicilan) maka setiap hari Sukinah harus membayar cicilan sebesar  Rp212ribu per hari atau jika ditotal nilai bunganya sebesar 6% selama sebulan ditambah dengan jasa profisi sebesar 1,5%, sehingga total bunga yang menjadi beban bisa mencapai 7,5% .

Namun yang harus dicatat, pinjaman ini tanpa agunan. Saling percaya antara peminjam dengan pemilik uang. Skim pengembaliannya juga bervariasi ada yang masa pengembaliannya 1 bulan (25 bayar cicilan), 2 bulan (40 bayar cicilan), 2 bulan (50 bayar cicilan), dengan masing-masing pengembalian pokok dan cicilan sebesar Rp140ribu untuk sebanyak 40 cicilan, dan sebesar Rp112ribu untuk sebanyak 50 cicilan.  

 

Perlu Dukungan & Kepedulian

            Nasib pengusaha gurem seperti Sukinah sangat jumlahnya. Mereka tidak memiliki agunan yang cukup, serta lemah dalam mengakses kredit dari lembaga jasa keuangan dengan bunga ringan.

Mereka tidak dapat menjangkau Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diharapkan dapat ‘menolong’ kehidupan usaha seperti dirinya. Terlebih ia adalah jenis pengusaha ‘kalong’ yang beroperasi malam hingga pagi hari. Mereka tak bisa ditemui jika para pejabat datang saat jam kantor. Tetapi  untuk orang seperti mereka siapa peduli?

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari