Tanggal Hari Ini : 22 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
‘Keyakinan dan Agunan’ dalam Kredit Mikro dan kecil
Kamis, 12 Mei 2011 22:32 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Maraknya kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang disediakan oleh perbankan dan jasa keuangan lainnya sisi lain merupakan kebahagiaan tersendiri bagi para pebisnis UMKM yang ingin mengembangkan usahanya, namun di sisi lain banyak hal yang harus diperhatikan, dan juga perlu diketahui oleh pengusaha UMKM.

Tingkat bunga kredit UMKM dari perbankan maupun jasa keuangan lainnya relatif masih cukup tinggi, hal ini masih sangat memberatkan pengusaha mikro untuk dapat bersaing dalam menghasilkan produk-produk dan jasa yang dihasilkan. Albert, sebut saja begitu, seorang pebisnis kecil yang mengelola usaha resto di Jakarta. Untuk mengembangkan usahanya ia meminjam dana dari salah satu bank swasta nasional dengan pokok pinjaman sebesar Rp150juta dengan jangka waktu selama 36 bulan. Bunga efektif per tahun sebesar 26,9 persen dengan angsuran per bulan sebesar Rp6,1juta, dengan agunan sebuah tanah dan rumah dengan sertifikat hak milik.

Namun dalam bulan ketiga, cicilan kredit sudah mulai terlambat dari jadwal pembayaran cicilannya, dan bulan keempat dan seterusnya cicilan macet total.  Majalah WK juga menemukan fenomena serupa, dimana terdapat beberapa kasus kredit macet yang terjadi pada pengusaha UMKM. Mengapa demikian?

Berikut tips bagi pengusaha. Pertama, upayakan tidak meminjam kredit bank untuk membiayai usaha yang sama sekali baru. Karena kita belum mengetahui seberapa besar hasil atau omzet yang akan dihasilkan dari bisnis yang baru didirikan tersebut. Jika berpatokan terhadap bisnis plan, dalam kenyataan di lapangan, bisnis plan banyak yang berbeda dengan kenyataan di lapangan.

Upayakan tidak tergiur dengan tawaran pinjaman kredit dari perbankan, terlebih jika anda belum benar-benar belum memerlukan. Account Executice perbankan biasanya diberi beban target penyaluran kredit oleh masing-masing perusahaan, dan jika anda termasuk sasaran target pemasaran produk kredit perbankan mereka akan mendatangi anda dan menawarkan kredit, terlebih jika anda memiliki agunan yang memiliki sertifikat SHM dan berada di lokasi yang strategis.

Berdasarkan pantauan Majalah WK, banyaknya kasus kredit macet dari kredit UMKM yang disalurkan terdapat kesamaan masalah, yang pertama, banyak kredit yang salah peruntukan, dimana saat peminjaman nasabah mengatakan akan digunakan untuk mengembangkan usaha, namun kenyataannya kredit yang diberikan ternyata digunakan untuk hal lain, misalnya untuk membayar hutang terdahulu, membeli barang konsumtif, dll, yang dialokasikan di luar peruntukan usaha.

Kedua, tidak dilakukan analisis yang benar saat pemberian kredit kepada para pengusaha UMKM, sehingga pihak bank juga turut menjerumuskan para pengusaha terhadap kegagalan nasabah membayar cicilan hutang.

 

Keyakinan dan Agunan    

Bagi perbankan,  memberikan kredit kepada pengusaha berarti memberikan ‘jaminan pemberian kredit,  yang berarti  menjual keyakinannya kepada nasabah, meskipun ada jaminan kredit lainnya yang berupa agunan.

Karena itu, penyaluran kredit, khususnya bagi kredit mikro dan kecil  pada prinsipnya adalah mengutamakan pada kemampuan / kapabilitas calon debitur (nasabah) dalam mengelola usahanya dan termasuk risiko usaha yang dijalaninya. Sedangkan agunan/jaminan hanya  menjadi semacam pengikat / moral obligation dari debitur untuk memenuhi kewajibannya.

Terlebih jika kredit tersebut adalah kredit tanpa agunan (KTA). Kredit tersebut  hanya diberikan kepada nasabah yang sudah sangat dikenal dan dipercaya serta mempertimbangkan dari segi risiko usaha yang dijalaninya. Jadi jika anda belum memiliki reputasi bisnis dan reputasi anda masih diragukan oleh perbankan dalam mengembalikan cicilan hutang, jangan bermimpi mendapatkan KTA.

Dalam memberikan kredit, perbankan akan mempertimbangkan  risiko usaha yang dijalani, mensyaratkan jaminan kredit harus memiliki bukti kepemilikan yang sah sesuai hukum yang berlaku. Agunan / jaminan kredit dapat berupa aset yang diterima umumnya berupa persediaan barang, kendaraan antara lain motor, mobil, mesin produksi, tanah dan bangunan. Khusus untuk jaminan berupa tanah dan bangunan, kepemilikannya dibuktikan dengan Sertifikat Hak Milik / SHM, Hak Guna Usaha / HGU, Hak Guna Bangunan / HGB, dll. Sedangkan surat Girik Tanah bukan merupakan bukti kepemilikan aset yang sah sesuai hukum yang berlaku. Pihak bank biasanya dapat menerima surat Girik jika secara yuridis status kepemilikan tanah tersebut dapat ditingkatkan menjadi bukti kepemilikan seperti : SHM, HGB, dll. 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari